Senin, 21 Maret 2011

Mujahid-mujahid Amerika di kancah Jihad dunia


Mereka Muslim yang dibesarkan di negara yang berpenduduk mayoritas kafir. Walau begitu, tidak menyurutkan niat mereka untuk mempelajari dan memahami Islam sebagaimana pemahaman pendahulu mereka, pemahaman para salafuh shalih. Mereka percaya bahwa jihad merupakan jalan terbaik untuk membela Islam.
Patrick Boyd Daniel. Ditangkap pada 27 Juli 2009. Daniel dianggap sebagai pemimpin dari kelompok yang terdiri dari tujuh orang di Carolina Selatan. Ia dituduh mendukung gerakan jihad di negara-negara lain termasuk Israel, Yordania, Kosovo dan Pakistan. Menurut dakwaan, Daniel menerima pelatihan "Islam radikal" di Pakistan dan Afghanistan, namun dia tidak dikaitkan dengan Al Qaeda atau kelompok jihad lain yang beroperasi di daerah tersebut.
Adam Gadahn. Gadahn adalah anggota Al Qaeda asal Amerika yang paling dicari dan merupakan warga negara Amerika Serikat pertama sejak tahun 40-an yang dikenakan tuduhan pengkhianatan. Dia adalah salah satu dari dua warga AS yang berada dalam daftar FBI dan termasuk 28 "teroris" yang paling dicari dan AS menawarkan 1 Juta USD untuk informasi yang mengarah kepada penangkapannya. Gadahn dilahirkan di Oregon dan dibesarkan di California, dianggap seorang komandan senior untuk Syaikh Usamah bin Ladin dan dilaporkan memainkan peran sebagai penerjemah, produser video dan penerjemah budaya. Dalam gambar di atas, Gadahn terlihat dalam sebuah video yang diposting di internet, dalam pesannya ia memuji seorang Angkatan Darat AS yang membunuh 13 orang di basis militer Fort Hood di Texas.
Abdul Rahman Yasin. Lahir pada tahun 190 di Bloomington. Yasin dicari karena diduga berpartisipasi dalam pemboman tahun 1993 di WTC, yang mengakibatkan kematian enam orang. Dia adalah salah satu dari dua orang warga AS yang masuk dalam daftar FBI, AS menawarkan sampai 5 juta USD untuk informasi mengenai dirinya. Poster di atas disebar pada tahun 2001.
Syaikh Anwar al-Awlaki. Lahir pada tahun 191 di Las Cruses. Ulama kharismatik ini kadang disebut sebagai "bin Ladin di internet". Syaikh al-Awlaki berusaha menjangkau Muslim berbahasa Inggris dalam ceramahnya dan mendorong mereka untuk terlibat dalam jihad di Barat. Dia telah dikaitkan dengan penembakan di Fort Hood oleh Mayor Nidal Malik Hasan dan percobaan pemboman di pesawat oleh Umar Farouk Abdulmutalib, mujahid asal Nigeria.
Omar Hammai. Ia dilahirkan di Alabam, pernah muncul di fitur New York Times, "The Jihadi Next Door". Dibesarkan sebagai seorang Kristen. Putra dari ayah dan ibu Amerika-Suriah ini lambat laun mengenal Islam dan menjadi "Islam fundamentalis" pada tahun 2007 lalu bergabng dengan Al Qaeda Somalia yang mendukung kelompok Al Shabaab. Dia dikatakan sebagai bintang dan perekrut utama, foto di atas adalah pesan videonya pada 31 Maret 2009 yang dirilis dalam forum jihad.
Najibullah Zazi. Ditangkap 16 September 2009. Meskipun lahir di Afghanistan, Zazi dan keluarganya pindah ke New York pada 1999 dan menjadi penduduk secara hukum. Dokumen pengadilan menyatakan bahwa di tahun 2008 ia pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan Taliban meskipun ia direkrut oleh Al Qaeda. Dia kembali ke AS pada bulan Januari 2009, pindah ke Denver dan sebelum akhir tahun dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS karena merencanakan meledakkan kereta api bawah tanah New York dengan bom buatan sendiri. Dalam foto, ia dikawal keluar dari helikopter NYPD. Ia kemungkinan akan dijatuhi hukuman seumur hidup.
Nidal Malik Hasan. Ditangkap pada 5 November 2009. Mayor Nidal, dokter militer AS melakukan penembakan di pos Angkatan Darat AS di Fort Hood, Texas yang menewaskan 13 orang. Dia dilahirkan di Arlington, namun Hasan tidak pernah terjun ke zona perang.
John Walker Lindh. Ditangkap 25 November 2001. Lindh kelahiran Washington DC, ditangkap sebagai pejuang musuh sejak AS menginvasi Afghanistan pada tahun 2001. Ia menjadi tertarik dengan Islam setelah melihat Spike Lee dalam film Malcolm X. Lindh sekarang menjalani hukuman penjara 20 tahun.Dalam foto adalah Lindh saat melakukan registrasi di sebuah Madrasah Saudi Hassani Kalan Surani Bannu di Pakistan tahun 2002.
David Headley. Ditangkap 3 Oktober 2009. kelahiran Washington DC, dibebankan dengan panduan lokasi untuk serangan "teroris" 2008 di Mumbai yang menewaskan 174 orang. Seperti ‘Jihad Jane' Colleen LaRose, yang didakwa merencanakan untuk membunuh kartunis Swedia, Headley juga diduga telah merencanakan serangan terhadap koran Denmark yang menerbitkan kartun kontroversial Nabi Muhammad Saw, pada tahun 2005. Dalam gambar Headley muncul di pengadilan federal di Chicago. Dia telah mengaku tidak bersalah dan menunggu persidangan.
Colleen LaRose, alias Jihad Jane. Ditangkap 15 Oktober 2009. Wanita kelahiran Michigan didakwa atas tuduhan konspirasi untuk memberikan dukungan material kepada teroris dan membunuh seseorang di negara asing. Gadis pirang Amerika bermata hijau dari pinggiran kota Philadelphia menyebut dirinya Jihad Jane dan Fatima LaRose. Dia dituduh berhubungan dengan militan melalui Internet untuk plot aksi terorisme, termasuk rencana untuk membunuh kartunis Swedia.
Faisal Shahzad. Dia ditangkap di bandara New York atas tuduhan bahwa ia mengendarai mobil SUV berisi penuh bahan peledak dan meledak di depan Times Square. Shahzad, warga negara Amerika Serikat kelahiran Pakistan ditangkap dan didakwa dengan tuduhan berusaha melakukan serangan, tampaknya memiliki sedikit pelatihan nyata dalam teknik bahan peledak, menurut pejabat AS. Shahzad tinggal di Shelton, dengan keluarganya sampai mereka kehilangan rumah mereka untuk penyitaan tahun lalu dan keluarga nya terbang dari AS ke Karachi pada bulan Juli 2009. Shahzad akan menghadapi tuduhan terorisme dan memiliki senjata pemusnah massal.
Polisi Pakistan mengawal lima pria yang tangannya diborgol dan diidentifikasi sebagai Aman Hassan Yemer, Abdulah Ahmed Minni, Waqar Hussain Khan, Ramy Zamzam, dan Umar Farooq . Semuanya warga Amerika dari Virginia utara. Mereka bermaksud bergabung dalam jihad di Afghanistan untuk membela kaum Muslim yang dijajah di sana, namun niat mereka belum tercapai, mereka telah ditangkap di perbatasan oleh polisi boneka Pakistan. Kini mereka masih berada di penjara thagut Pakistan dan menjalani persidangan. (dbs/arrahmah.com)
Selengkapnya...

Jilbab Membawa Berkah (Kisah Orang Indonesia di Eropa)


Asty Rastiya, menceritakan pengalamannya kidentitas Asty sebagai seorang muslimah. Dengan berbekal pengetahuan yang didapat detika kuliah di Den Haag, Belanda. Dirinya sempat ketar-ketir karena menurut apa yang dia tahu sebelum berangkat ke Belanda, dunia barat mendiskriminasi Islam.

Apalagi dengan mengenakan jilbab, tambah jelaslah ari media, Asty teguh berangkat ke Belanda dan bersiap menghadapi segala resiko.

Kecele
"Eh ternyata tak seperti yang aku kira. Dosen gak keberatan aku sholat di kelas. Teman-teman terutama yang bule, mereka memandang sinis Islam karena cuma punya pengetahuan dari media. Samalah dengan aku sebelum berangkat ke Belanda, " demikian Asty.

Roma
Asty mengatakan, justru mendapatkan banyak keuntungan dan beberapa kali ditolong orang asing gara-gara jilbab. Contohnya, ketika berada di Roma, Italia dan memesan makanan di sebuah restoran Turki, Asty di'ganjar' secangkir teh gratis oleh pemilik restoran.

"Saya pikir tehnya memang gratis di restoran itu, tapi setelah saya lihat menu, ternyata harganya 1,5 euro. Alhamdullilah, rejeki..." kata Asty.

Masih di Roma, dia menceritakan pengalamannya ketika sedang berjalan menyusuri jajaran toko dan restoran. Ketika itu Asty dan temannya harus melewati sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di pinggir jalan, lengkap dengan botol bir di tangan. Tiba-tiba seorang dari mereka mengucapkan salam, "Assalamualaikum!" Walaupun kaget, Asty menjawab juga.

Tak lama seseorang dari gerombolan itu melambaikan tangan memanggil mereka. Asty lumayan gugup, karena tidak mengerti apa mau si pemuda. Mereka bergeming. Lalu laki-laki itu menyerahkan botol bir yang sedang dipegangnya pada salah satu temannya, dan berjalan ke arah kedua gadis tersebut.

Si pemuda kemudian menunjuk ke kepalanya, lalu menunjuk Asty. "That's beautiful! No many people who wear that!" Serunya. Asty lega, ternyata pemuda itu hanya ingin memberi pujian. Dan caranya menyerahkan botol bir kepada temannya sebelum menghampiri, diartikan Asty sebagai cara menunjukkan rasa hormat.

Milan
Lain lagi pengalaman di Milan. Karena lupa membawa peta kota Milan, Asty dan temannya harus menanyakan alamat kepada orang sekitar. Di Italia, kebanyakan orang enggan atau tidak fasih berbahasa Inggris. Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka bertemu seorang pemuda yang membantu menunjukkan arah. Bahkan ikut menemani ke stasiun metro untuk membeli tiket dan membantu membelikan tiket dari mesin.

Ternyata pemuda itu seorang imigran asal Pakistan. Ketika Asty mengucapkan terima kasih atas bantuannya, dia menjawab "It's okay. I'm a Muslim, you are a Muslim, so I help you," jawabnya sambil tersenyum.

Praha
Kejadian lainnya ketika berada di Praha, Republik Ceko. Ketika sedang berjalan-jalan di sebuah kompleks Yahudi, kembali terdengar seseorang menyapa , "Assalamualaikum." Asty tidak menyangka karena itu keluar dari mulut seorang seorang laki-laki berkulitputih dan dalam kompleks pemakaman Yahudi di Praha.

Si pria yang ternyata pemilik toko suvenir itu menjanjikan korting untuk Asty. Asty waktu itu berpikir, yah semua pedagang akan bilang begitu, supaya dagangannya laku. Si laki-laki tersebut sempat bercakap singkat dengan si kasir, yang kemudian menghitung belanjaan Asty, yang totalnya sekitar 600 Kc. Tapi kemudian, ia berkata, "We give you discount." Total harga di monitor pun berubah menjadi sekitar 500 Kc. "Waaah, ternyata si pelayan toko tadi sungguh-sungguh dengan perkataanya! Alhamdulillah, rejeki lagi...," kata Asty.

London
Selain kejadian-kejadian di atas, masih ada beberapa pengalaman berkesan lain gara-gara jilbab yang Asty kenakan. Termasuk saat berjalan-jalan di London, Inggris. Saat sedang mengantri burger di sebuah restoran cepat saji, seorang ibu mengingatkan Asty makanan itu tidak halal, meskipun daging sapi. Asty yang kelaparan mengatakan mencari makanan sepenuhnya halal itu sulit di London. Ibu itu mengatakan, wah tidak benar itu. "And she was right!" kata Asty. Restoran yang menawarkan makanan halal ternyata cukup bertaburan di pusat kota London. "Saya bahkan menemukan sebuah restoran sushi bersertifikat halal!" Asty senang karena merasa diingatkan.

Belanda
Tak hanya pertolongan orang yang Asty dapatkan berkat jilbab. Keuntungan lain, berjilbab memudahkan untuk sholat di mana pun dan kapan pun, tanpa harus repot memakai mukena. Bahkan di kereta sekalipun.

Apa tidak takut dipandang aneh? Asty mengatakan, "Saya tidak pernah dipandang aneh atau dikucilkan begitu. Paling mereka berpikir, ini orang lagi yoga apa begitu, " sambungnya tergelak. Ada satu kejadian yang Asty tidak lupa, ketika itu ada seorang pria Belanda yang naik kereta bersama anjingnya. Sebelum duduk di depan Asty, pria itu bertanya lebih dahulu apakah Asty keberatan jika dia duduk di hadapan Asty. "Entah dia tahu kalau muslim tidak bisa sama anjing, tapi saya surprise, orang Belanda biasanya kan gak pernah tanya-tanya."

Kacamata
Menurut Asty, jika ada perdebatan soal mengapa tetap memeluk agama Islam walaupun sudah banyak anggapan teroris dan sebagainya, Asty mengatakan ,"Saya bilang, kamu tidak akan bisa memahami keyakinanku jika kamu melihatnya dengan kacamatamu sendiri. Sama dengan aku yang tidak bisa memahamimu yang atheis tidak percaya Tuhan, jika aku menggunakan kacamataku sendiri. Tapi aku berusaha melihat kamu dan memahami kamu dari kacamatamu sendiri, sehingga aku paham mengapa kamu atheis dan menghargai kamu dan pilihanmu."

[muslimdaily.net/RNW/foto dari Facebook]
Selengkapnya...

Tweet Pertama Ada 10 Tahun Lalu


Situs mikroblogging yang mendapatkan posting lebih dari 1 miliar tweet dalam sepekan itu ternyata menerima tweet pertama sepuluh tahun lalu, atau lima tahun sebelum Twitter resmi berdiri pada Juli 2006.

Pendiri Twitter, Jack Dorsey mengkisahkan bagaimana dia pertama kali mencoba untuk mengirim tweet melalui ponsel pintarnya. "Ketika saya masih muda saya terobsesi dengan peta," kata Dorsey yang ketika itu berusia 14 tahun.

Dia kemudian mempelajari bagaimana menulis perangkat lunak untuk mengirim pesan di mana lokasi si pengirim pesan berada. Pada 2001, Dorsey bekerja di sebuah perusahaan pengiriman dan ketika itu dia menyadari bahwa sebelumnya dia punya "mimpi" tentang bagaimana mewujudkan pengiriman pesan yang sederhana dan melewati batas ruang dan waktu.

"Jadi saya menulis beberapa kode untuk ponsel Blackberry saya dan membuat daftar email teman-teman," katanya. Kemudian software itu dia gunakan ketika sedang berada di Golden Gate Bison Park. Waktu itu, Dorsey mengirim pesan "Saya berada di taman bison". "Itulah tweet pertama saya," katanya.

Tapi sayangnya ketika itu pesan tersebut tidak seketika itu juga dibaca teman-teman Dorsey karena dia mengirim ke surat elektronik. Sekarang teknologi yang diterapkan Twitter lebih cepat dan dapat check-in di suatu lokasi melalui layanan seperti Foursquare dan Gowalla.

Lalu mengapa Twitter baru hadir lima tahun setelah 2001? Dorsey mengatakan di Amerika Serikat baru menerapkan teknologi pesan singkat antar operator ponsel pada 2006.

Sumber : terselubung
Selengkapnya...

Foto Jepang Sebelum & Setelah Gempa & Tsunami









































Selengkapnya...